MEMBUAT SESUATU
DOWNLOAD MUSIC
Download mp3 avenged 7fold semau kamu !!!!!
>>I won't see you tonight MP3 Download
>>An Epic of Time Wasted MP3 Download
>>Critical Acclaim MP3 Download
>>Darkness Surrounding MP3 Download
>>Strength of the World MP3 Download
>>afterlife MP3 Download
>>Almost Easy MP3 Download
>>Beast and the Harlot MP3 Download
>>dear god MP3 Download
>>M.I.A. (missing in action) MP3 Download
>>Unholy Confessions MP3 Download
>>Forgotten Faces MP3 Download
>>Crossfolds MP3 Download
>>An Epic of Time Wasted MP3 Download
>>Gunslinger MP3 Download
>>Eternal Rest MP3 Download
>>The Wicked End MP3 Download
>>Burn It Down MP3 Download
>>Remenissions MP3 Download
>>Chapter Four MP3 Download
>>Seize the Day MP3 Download
>>Radiant Eclipse MP3 Download
>>Walk (Pantera Cover) MP3 Download
>>Little Piece of Heaven MP3 Download
>>Bat Country MP3 Download
>>The Art Of Subconscious Illusion MP3 Download
Pendidikan
Unsur-unsur puisi
Puisi adalah ungkapan perasaan dan pikiran penyair tentang hidup dan pengalaman dari sendiri serta pengertiannya tentang hidup dan pengalaman sesame manusia.Di antara berbagai bentuk sastra, puisilah yang paling sering bertujuan menggugah emosi kita daripada akal budi atau kecerdasan kita.
Oleh karena puisi berdasarkan perasaan dan pengalaman pribadi, maka pemahaman kita sebagai pembaca, sering tergantung pada perasaan dan pengalaman kita sendiri selain perasaan dan pengalaman penyair. Meskipun begitu, kita harus mencoba memandang gagasan pokok sajak diri sudut pandang penyair, bukan dari sudut pandang kita sendiri.
Tema
Seperti juga karya-karya sastra yang lain, sebuah sajak biasanya mengandung tema, yaitu gagasan pokok atau ide utama yang ingin disampaikan oleh penyair. Tema itu bisa berkaitan dengan kehidupan dan pengalaman yang nyata ataupun perasaan penyair tentang pengalaman tersebut. Tema juga bisa berkaitan dengan sifat-sifat pribadi dan kehidupan rohani manusia.
Pesan
Pesan adalah apa yang diharapkan dipikirkan atau dilakukan oleh pembaca setelah mencerna tema sajak. Walaupun setiap karya sastra mempunyai tema, tidak semua karya sastra harus mengandung pesan. Banyak sajak bertujuan sebagai cerminan hidup manusia, tidak bertujuan untuk menyampaikan ajaran atau petuah apa-apa.
Nada dan suasana
Bagaimana pun juga, pengertian kita tentang tema dan pesan tersebut dipengaruhi oleh nada dan suasana yang diciptakan oleh penyair. Nada mengungkapkan suasana hati penyair- kalau nadanya berubah, maka pemahaman kita tentang perasaan penyair juga berubah. Bisa terjadi satu sajak mempunyai beberapa nada yang menonjol- mungkin dimulai dengan nada gembira, kemudian berubah menjadi nada yang sedih atau muram. Suasana yang diciptakan berkaitan erat dengan nada penyair.
Contoh:
Adalah hujan dalam kabut yang ungu
Turun sepanjang gunung dan bukit biru
Ketika kota cahaya dan di mana bertemu
Awan putih yang menghinggapi camaraku
Adalah kemarau dalam sengangar berdebu
Turun sepanjang gunung dan bukit kelu
Ketika kota tak bicara dan terpaku
Gunung api dan hama di ladand-ladangku
Dalam kedua bait di atas, nada penggambaran daerah perbukitan berubah drastis, sesuai dengan pandangan penyair tentang lingkungan sekitarnya.
Kalau kita memikirkan semua emosi yang bisa dialami oleh menusia, itulah jumlah nada yang di temukan di dalam dunia puisi. Penyampaian tema dan penciptaan nada dicapai lewat barbagai teknik menyair.
Struktur sebuah sajak
Biasanya sebua sajak terdiri dari saru atau lebih bait, dengan sejumlah baris yang bisa mempunyai irama dan rima yang teratur atau bisa merupakan “sajak bebas”, yaitu irama dan rimanya disusun berdasarkan wirama alamiah. Irama dan rima yang teratur bisa membantu menciptakan suasana tertentu, misalnya suasana romantis, lembut atau ceria. Demikian pula, bentuk sajak bebas bisa menciptakan kesan tertentu, misalnya kemarahan, kegairahan, ataupun kekacauan. Lebih dari itu, tiadanya pola-pola formal bisa memudahkan pengungkapan pikiran dan perasaan penyair. Banyak di antara sajak modern termasuk “sajak bebas” tersebut.
Oleh karena masing-masing baris dalam sajak tidak harus berupa kalomat lengkap, setiap kata dalam sebuah sajak mempunyai tujuan dan makna tertentu salam rangka makna keseluruan sajak. Tidak ada kata-kata yang sepele-pele saja. Bisa terjadi bahwa satu baris terdiri dari kata tunggal saja-kata tersebut tentunya mempunyai makna yang ditentukan dalam sajak.
Kalau sajak terdiri dari beberapa bait, masing-masing menyampaikan satu segi atau ide dalam perkembangan makna keseluruhan sajak tersebut, ( sama seperti paragraph dalam tulisan prosa). Tema atau ide utama sajak bisa dikembangkan melalui susunan bait yang tepat.
Perhatikan contoh struktur demikian dihalaman berikut.
Contoh:
Sebuah bel kecil tergantung di jendela
Di bulan Juni
Berkelining sepi
Daun asam dan cericit butung gereja
Keletak kuda aong-adong Yogya
Kota tua membentang dalam debu
Sepanjang gang ditaburnya sepi itu
Sebuah bel kecil tergantung di jendela
Di bulan Juni
Berke-
Li-
ning
Sepi.
Dalam sajak di atas, susunan bait, terutama perulangan bait pertama dengan kata “Berkelining” yang suku katanya dipisahkan sehingga membentuk tiga baris, membantu menciptakan suasana kesepian dan menguatkan makna tentang terentangnya waktu.
Gaya bahasa puisi
Bahasa yang digunakan dalam menulis puisi mempunyai ciri-ciri yang berbeda dari bahasa yang biasanya digunakan dalam tulisan prosa.
Kadang-kadang kita mengacu pada sifat “puitis” sebuah tulisan- biasanya bahasa yang mempunyai ciri-ciri berikut.
Pilihan kata
Pilihan kata sangat penting dalam menulis puisi. Dengan satu dua kata yang sangat mengena, seorang penyair bisa menciptakan kesan yang diinginkannya.
Misalnya,
mari mengembara bersama angina
mencium matahari dari pangkuan bulan
kata “mengembara”, “mencium” dan “pangkuan” membantu untuk menciptakan kesan kemesraan serta asmara, Sedangkan, salam baris berikut
pada sebuah kamar
benderang lampu taman merasuk ke dalam
kata “merasuk” sangat penting dalam menciptakan suasana yang agak sepi dan suram. Kata-kata yang dalam satu konteks mempunyai arti tertentu dalam konteks lain bisa digunakan penyair untuk memberukan kesan yang baru atau berbeda.
Citraan
Salah satu penggunaan kata yang paling mengesankan salam puisi terdapat dalam citraan.
Citraan adalah cara membentuk citra mental, atau gambaran sesuatu. Sebuah citra adalah lesan mental atau bayangan visual yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frasa, atau kalimat.
Citraan menyarankan gambar yang tampak oleh mata batin kita, tetapi dapat juga menyarankan hal-hal yang merangsang pancaindera yang lain, seperti penglihatan pendengaran dan penciuman.
Bentuk citraan yang biasanya terdapat dalam puisi sering disampaikan dengan majas-majas termasuk:
・simile- perbandingan dua hal yang secara hakiki berbeda, tetapi dianggap mengandung
Segi yang serupa.
Contoh:
matahari bagaikan bola api
・metafora(kiasan)- perbandingan yang tersirat ungkapan yang melukiskan kesamaan
Kesamaan makna di antara dua hal
Contoh:
matahari adalah bola api
・ personifikasi(insanan)- majas yang memberikan sifat-sifat manusia ke barang yang
tidak bernyawa.
Contoh:
matahari mencium kaki langit
・hiperbola- majas yang dalam ungkapannya melebih-lebihkan apa yang sebenarnya
Dimaksudkan
Contoh:
seribu halilintar menyambar,
seribu guruh gemuruh
simbolisme ( perlambangan)
simbolisme adalah piaranti sastra yang menggunakan citraan yang konkret untuk mengungkapkan perasaan atau ide yang abstrak.
Contoh:
di tengah belantara
beton dan besi
Dalam kutipan ini, belantara beton dan besi sigunakan untuk melambangkan sebuah penjara(atau juga bisa melambangkan sebuah kota)
Memang, ada symbol yang segera dipahami maknanya oleh semua masyarakat karena sering digunakan. Misanlya, matahari sering digunakan sebagai symbol sumber kehidupan, kehangatan, daya kreatif. Sedangkan bulan sering melambangkan cinta asmara, sebuah misteri dll. Alau symbol cukup jelas hubungannya dehngan ide atau perasaan yang dilambangkannya, maka mudah dipahami oleh semua pembaca, Tapi kalau kaitan symbol dengan ide atau perasaan yang dilambangkan agak samar, maka tidak menherankan kalau tidak semua orang mencerna menebak maknanya.
Ide apa yang biasanya Anda kaitkan dengan symbol-simbol berikut:
topeng Adam dan Hawa
kabut darah
musim gugur kereta api
tahun 2000 kota New York
bunga dini hari
Simbol seperti yang di atas bisa digunakan oleh penyair tampa harus menjelaskan maknanya secara lebih lanjut atau rumit.
Perulangan
Perulangan adalah frasa sering digunakan oleh penyair untuk menekankan ide atau perasaan tertentu.
Contoh:
Ibu, kini akan makin mengerti nilaimu,
Kamu adalah tugu kehidupanku,
yang tidak dibikin-bikin dan hambar seperti
Monas dan Taman Mini.
Kamu adalah Indonesia Raya.
Kamu adalah hujan yang kulihat di desa.
Kamu adalah hutan di sekitar telaga.
Kamu adalah teratai kedamaian samadhi.
Kamu adalah libat hati nutani di dalam kelakuanku.
Dalam sajak ini, penyair menggunakan perulangan frasa “Kamu adalah” untuk menekankan banyaknya segi peran seorang ibu. Selain itu, perulangan frasa tersebut menciptakan irama yang menambahkan kesan keyakinan terhadap nilai ibu.
Perulangan bunyi
Selain perulangan kata-kata tertentu, perulangan bunyi juga bisa menambahkan suasana dan makna keseluruhan sebuah sajak. Perulangan bunyi tersebut bisa berupa aliterasi, yaitu ulangan bunyi kosonan, lazimnya pada awal kata yang berurutan, atau juga bisa berupa asonansi, yaitu perulangan vocal pada kata yang berurutan. Kedua teknik tersebuut bertujuan untuk mencapai efek kesedapan bunyi.
Contoh aliterasi:
Ular yang mendesis merisik,
Dalam baris ini, perulangan bunyi huruf “s” menciptakan kesan bunyi gerakan seekor ular, bunyi yang lembut namun sekaligus sedikit mengerikan. Sedangkan, kalau bunyi “k” atau “g” yang diulang, maka kesan yang diciptakan agak keras dan kuat.
Contoh:
Garis ilmu bumi Garis tegak lurus
Garis granit
Contoh asonansi:
Mari menari dara asmara
Biar terdengar suara suara
Barangkali mati di pantai hati
Gelombang kenang membanting diri
Perulangan bunyi vokal “a” membantu untuk mencitakan irama laut yang berdebur menghempas.
Judul
Sama seperti jenis sastra yang lain, judul sebuah sajak bisa memberikan pengertian tertentu tentang isi atau tema sajak tersebut. Kalau isi dan tema sekiranya tidak dicerminkan dalam judulnya, mungkin penyair ingin menyampaikan kesan yang lain melalui judul itu.
Pendidikan
· clicks Posted January 24th, 2009 by poobe
· Artikel Lainnya
ANALISIS PENGGUNAAN GAYA BAHASA DAN MAJAS
DALAM 20 CERPEN TERBAIK 2008 KOMPAS
BERJUDUL “TENTANG SEORANG YANG MATI TADI PAGI” KARYA AGUS NOOR
Mata Kuliah : Ilmu Sastra Umum
Dosen : Prof. Dr. H. Budi Darma, M.A.
Drs. Santiko Budi, M.A
Disusun oleh:
Wardani Dwi W 08745070
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
PROGRAM PASCA SARJANA
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
JANUARI 2009
I. Pendahuluan
Memberikan definisi pada sastra merupakan hal yang sampai saat ini belum terjawab dengan tuntas. Menurut Welleck & Warren salah satu cara yang dianggap paling mudah untuk memberi definisi pada sastra adalah dengan merinci penggunaan bahasa yang khas sastra (1995:14). Sedangkan menurut Luxemburg (1991: 21) sastra memiliki bahasa yang khusus dengan cara penanganan yang berbeda-beda, yang tidak hanya berlaku untuk puisi, tapi juga untuk prosa sastra. Cara penggunaan bahasa seperti pemilihan kata, perangkaian kata menjadi kalimat, dan penggabungan kalimat menjadi teks, merupakan hal yang harus dihadapi oleh seseorang yang menggubah teks. Pokok dan tujuan pembuatan teks merupakan hal yang mendasari penggunaan bahasa dalam teks tersebut. Dalam hal ini pengarang menjadi faktor penentu penggunaan bahasa. Terbukti pada hasil tulisan seorang pengarang yang memuat penggunaan bahasa yang berbeda dengan hasil tulisan pengarang yang lainnya.
Makalah ini akan membahas beberapa gaya bahasa yang digunakan dalam cerpen “Tentang Seorang yang Mati Tadi Pagi” karya Agus Noor dalam 20 Kumpulan Cerpen Terbaik 2008 Kompas. Dalam makalah ini akan membahas mengenai gaya bahasa sintaksis dan gaya bahasa semantis. Gaya bahasa sintaksis terdiri dari bentuk pengulangan, bentuk pembalikan dan bentuk penghilangan (Luxemburg, 1991: 62), namun dalam cerpen “Tentang Seorang yang Mati Tadi Pagi” karya Agus Noor tiodak ditemukan bentuk pembalikan dan bentuk penghilangan, sehingga gaya bahasa sintaksis yang digunakan adalah bentuk pengulangan. Sedangkan untuk gaya bahasa semantis akan dibahas mengenai majas pertentangan, majas identitas dan majas kontiguitas (Luxemburg, 1991: 64).
II. Pembahasan
Pembahasan cerpen ““Tentang Seorang yang Mati Tadi Pagi” karya Agus Noor” dari sudut pandang penggunaan gaya bahasa sintaksis dan gaya bahasa semantis. Dalam gaya bahasa sintaksis yang digunakan adalah bentuk pengulangan dan bentuk penghilangan. Dalam gaya semantis akan dibagi ke dalam tiga majas, yaitu majas pertentangan, majas identitas dan majas kontiguitas. Ketiga majas tersebut nantinya masih dibagi lagi ke dalam beberapa kelompok.
1. Gaya Sintaktis
Bentuk sintaktis adalah konstruksi kalimat yang mencolok dari segi stilistika karena bangunnya yang menyimpang dari susunan yang “normal” (Luxemburg, 1991: 62). Bentuk sintaktis ini sesungguhnya dibagi ke dalam tiga jenis yang terdiri dari bentuk pengulangan, bentuk pembalikan dan bentuk penghilangan, namun karena bentuk pembalikan dan bentuk penghilangan tidak dijumpai dalam cerpen ini maka hanya bentuk pengulangan saja yang akan dibahas.
a. Bentuk pengulangan
Pada bentuk pengulangan atau paralelisme, terjadi perubahan terhadap urutan kata yang normal dalam kalimat. Paralisme sering juga disertai dengan pengulangan kata, frasa atau konstruksi gramtikal yang sama (Luxemburg, 1991: 62). Dalam sastra berfumgsi mempunyai dampak penekanan dan persuasif yang kuat. Dalam cerpen ini tampak pada kalimat berikut ini:
“Ia ingin segalanya berlangsung tenang dan nyaman. Ia ingin menikmati detik-detik kematiannya dengan karib.” (h.1, p.1)
Dalam kalimat diatas terdapat pengulangan kata “Ia ingin” yang dimaksudkan sebagai penekanan sebuah keinginan yang begitu besar. Selain itu terdapat pula pada kalimat berikutnya:
“Ia bisa merasakan gesekan yang sangat lembut pelan, ketika sebutir air bergulir di ujung hidungnya. Bahkan ia bisa merasakan dingin yang menggeletarkan bulu-bulu matanya” (h.1, p.1)
Dua kalimat dalam cerpen tersebut terdapat kesamaan konstruksi gramatikal yang sama. Adapun kesamaan struktur antar kalimat atau bagian kalimat terdapat dalam kalimat berikut:
“Ia memotong kuku, mencukur cambang, dan merapikan kumisnya yang tipis” (h.1, p.2)
“Ia menyisir rambutnya belah tengah, mengoleskan menyak rambut hingga tampak klimis, mengenakan pakaian terbaik mmiliknya, kemeja motif batik, dan tentu ia tak lupa menyemprotkan minyak wangi.” (h.2, p.2)
“Sedikit dibawah ketiak, di leher, di lengan, dan menggosoknya pelan” (h.2, p.2)
Adapun contoh lainnya yang lebih detail dalam sebuah penekanan sebuah kata yang merupakan gambaran sebuah keinginan yang kuat terdapat pada kalimat:
“Ia tak perlu susah-susah beli racun, lalu menenggaknya. Ia juga tak perlu repot-repot menyiapkan tali dan menggantungkan diri. Mati dengan cara seperti itu selalu menimbulkan kerumitan tersendiri. Ia pun tak perlu menabrakkan diri ke laju kereta api. Betapa tidak sedapnya mati dengan tubuh remuk terburai seperti itu: merepotkan dan menjijikkan.” (h.2, p.1)
Dari beberapa contoh kalimat diatas penggunaan gaya bahasa sintaksis bentuk pengulangan terlihat jelas. Hal ini dimaksudkan penulis untuk lebih menekankan dan memperjelas kejadian yang berupa keinginan yang kuat oleh tokoh utama yang digambarkan dalam cerita.
2. Gaya Semantis
Menurut Luxemburg (1991: 64) gaya semantis mengacu pada makna kata, bagian kalimat, dan kalimat dan secara umum disebut majas. Majas yang terdapat dalam gaya semantis adalah majas pertentangan, majas identitas dan majas kontiguitas.
a. Majas pertentangan
Dalam majas ini terdapat istilah antitese atau majas yang disertai dengan paralelisme sintaksis, contohnya “Ada waktu untuk datang, ada waktu untuk pergi” (Luxemburg, 1991: 64). Dalam cerpen ini tercermin pada kalimat berikut,
“Sungguh saya ingin mati, tetapi tak hendak bunuh diri” (h.5, p.1)
Dalam kalimat diatas sangat bertolak belakang dengan keadaan yang sering kita jumpai, ketika seseorang punya keinginan untuk mati pastinya akan melakukan hal yang dapat menyebabkan kematian itu, seperti bunuh diri. Namun dalam kalimat diatas begitu tercermin kalimat yang bertentangan. Adapun contoh yang lainya terdapat dalam kalimat berikut:
“Bila itu lelucon, pastilah itu lelucon yang tidak lucu” (h.5, p,2)
Dalam kalimat diatas sebuah lelucon pastinya akan menimbulkan hal yang lucu, namun dalam kalimat bertentangan dengan kalimat “lelucon yang paling tidak lucu”.
b. Majas identitas
Majas identitas mencakup perumpamaan dan metafora yang membandingkan objek atau pengertian dan menyamakannya secara semantis. Dalam proses metaforik terdapat beberapa bentuk seperti sinestesi dan personifikasi.
1. Metafora
a. Bentuk metafora yang akan dibahas terlebih dulu disini adalah penghilangan bagian yang harfiah sehingga makna yang tidak ditunjukkan dalam teks harus kita tentukan sendiri untuk memperoleh pemahaman yang baik (Luxemburg, 1991: 95) misalnya
“Lihatlah, cahaya matahari seperti susu segar yang ditumpahkan ke lantai, terasa kental.”(h. 2, p.3)
Disini cahaya matahari yang cerah dan hangat diumpamakan seperti susu segar yang kental.
b. Bentuk lain dalam bidang semantik adalah sinestesi yang menunjukkan aspek dari indera yang satu dihubungkan dengan indera lain, contohnya “suara yang hangat” (Luxemburg, 1989: 189). Dalam cerpen ini tercermin pada beberapa kalimat berikut,
“Betapa waktu yang berdenyut lembut membuat perasaan terhanyut” (h.1, p.1).
Disini indera penglihatan berupa kata “waktu” dihubungkan dengan indera perasaan berupa kata “berdenyut lembut “.
“... membuat setiap aroma jadi terasa begitu kental dalam penciumannya”(h. 3, p.1)
Pada kalimat ini indera penciuman berupa kata “aroma” dihubungkan dengan indera perasaan berupa kata “kental”.
c. Bentuk metafora yang banyak dijumpai adalah personifikasi dimana aspek arti dari sesuatu yang hidup dialihkan kepada sesuatu yang tidak bernyawa (Luxemburg, 1989: 189). Contoh dalam cerpen ini adalah
“Betapa waktu yang berdenyut lembut membuat perasaan terhanyut” (h.1, p.1).
“Detak jam yang begitu lembut” (h. 3)
Waktu dan detak jam adalah sesuatu yang tidak bernyawa, namun dinyatakan bisa berdenyut lembut.
Adapun kalimat lainnya yang merupakan personifikasi sebagai berikut:
“Aku bayangkan maut mengecup keningnya pelan, dan ia tersenyum.” (h. 6, p. 1)
Seperti halnya waktu dan detak jam, disini kata “maut” merupakan sesuatu yang tidak bernyawa, namun dinyatakan dapat mengecup keningnya pelan.
Dari beberapa contoh penggunaan gaya bahasa baik gaya bahasa sintaksis maupun gaya bahasa semantis
VI. Kesimpulan
Dari analisis yang dilakukan terhadap penggunaan bahasa menurut gaya dan majas yang ditemukan dalam cerpen ““Tentang Seorang yang Mati Tadi Pagi” karya Agus Noor diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa cerpen tersebut menggunakan bahasa yang khas sastra. Seperti yang telah diketahui bahwa makna dari bahasa yang khas sastra atau bahasa sastra antara lain adalah bahasa yang penuh dengan asosiasi, bersifat konotatif serta mempunyai fungsi ekspresif yang menunjukkan sikap penulisnya. Semakin kaya pengetahuan bahasa serta pengalaman sastra yang dimiliki seseorang, ia akan semakin mampu melakukan analisis maupun pengamatan yang baik terhadap pemakaian bahasa dalam sebuah karya sastra. Hal ini sangat disadari oleh penulis makalah yang merasa analisis yang disajikannya sangat sederhana dikarenakan lingkup pengetahuannya yang masih sempit. Maka penulis mengharapkan kritik, saran dan masukan yang dapat memperkaya pengetahuan dan pengalamannya sehingga dapat melakukan analisis yang lebih baik lagi di kemudian hari.
Pendidikan
· clicks Posted January 24th, 2009 by poobe
· Artikel Lainnya
ANALISIS PENGGUNAAN GAYA BAHASA DAN MAJAS
DALAM 20 CERPEN TERBAIK 2008 KOMPAS
BERJUDUL “TENTANG SEORANG YANG MATI TADI PAGI” KARYA AGUS NOOR
Mata Kuliah : Ilmu Sastra Umum
Dosen : Prof. Dr. H. Budi Darma, M.A.
Drs. Santiko Budi, M.A
Disusun oleh:
Wardani Dwi W 08745070
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
PROGRAM PASCA SARJANA
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
JANUARI 2009
I. Pendahuluan
Memberikan definisi pada sastra merupakan hal yang sampai saat ini belum terjawab dengan tuntas. Menurut Welleck & Warren salah satu cara yang dianggap paling mudah untuk memberi definisi pada sastra adalah dengan merinci penggunaan bahasa yang khas sastra (1995:14). Sedangkan menurut Luxemburg (1991: 21) sastra memiliki bahasa yang khusus dengan cara penanganan yang berbeda-beda, yang tidak hanya berlaku untuk puisi, tapi juga untuk prosa sastra. Cara penggunaan bahasa seperti pemilihan kata, perangkaian kata menjadi kalimat, dan penggabungan kalimat menjadi teks, merupakan hal yang harus dihadapi oleh seseorang yang menggubah teks. Pokok dan tujuan pembuatan teks merupakan hal yang mendasari penggunaan bahasa dalam teks tersebut. Dalam hal ini pengarang menjadi faktor penentu penggunaan bahasa. Terbukti pada hasil tulisan seorang pengarang yang memuat penggunaan bahasa yang berbeda dengan hasil tulisan pengarang yang lainnya.
Makalah ini akan membahas beberapa gaya bahasa yang digunakan dalam cerpen “Tentang Seorang yang Mati Tadi Pagi” karya Agus Noor dalam 20 Kumpulan Cerpen Terbaik 2008 Kompas. Dalam makalah ini akan membahas mengenai gaya bahasa sintaksis dan gaya bahasa semantis. Gaya bahasa sintaksis terdiri dari bentuk pengulangan, bentuk pembalikan dan bentuk penghilangan (Luxemburg, 1991: 62), namun dalam cerpen “Tentang Seorang yang Mati Tadi Pagi” karya Agus Noor tiodak ditemukan bentuk pembalikan dan bentuk penghilangan, sehingga gaya bahasa sintaksis yang digunakan adalah bentuk pengulangan. Sedangkan untuk gaya bahasa semantis akan dibahas mengenai majas pertentangan, majas identitas dan majas kontiguitas (Luxemburg, 1991: 64).
II. Pembahasan
Pembahasan cerpen ““Tentang Seorang yang Mati Tadi Pagi” karya Agus Noor” dari sudut pandang penggunaan gaya bahasa sintaksis dan gaya bahasa semantis. Dalam gaya bahasa sintaksis yang digunakan adalah bentuk pengulangan dan bentuk penghilangan. Dalam gaya semantis akan dibagi ke dalam tiga majas, yaitu majas pertentangan, majas identitas dan majas kontiguitas. Ketiga majas tersebut nantinya masih dibagi lagi ke dalam beberapa kelompok.
1. Gaya Sintaktis
Bentuk sintaktis adalah konstruksi kalimat yang mencolok dari segi stilistika karena bangunnya yang menyimpang dari susunan yang “normal” (Luxemburg, 1991: 62). Bentuk sintaktis ini sesungguhnya dibagi ke dalam tiga jenis yang terdiri dari bentuk pengulangan, bentuk pembalikan dan bentuk penghilangan, namun karena bentuk pembalikan dan bentuk penghilangan tidak dijumpai dalam cerpen ini maka hanya bentuk pengulangan saja yang akan dibahas.
a. Bentuk pengulangan
Pada bentuk pengulangan atau paralelisme, terjadi perubahan terhadap urutan kata yang normal dalam kalimat. Paralisme sering juga disertai dengan pengulangan kata, frasa atau konstruksi gramtikal yang sama (Luxemburg, 1991: 62). Dalam sastra berfumgsi mempunyai dampak penekanan dan persuasif yang kuat. Dalam cerpen ini tampak pada kalimat berikut ini:
“Ia ingin segalanya berlangsung tenang dan nyaman. Ia ingin menikmati detik-detik kematiannya dengan karib.” (h.1, p.1)
Dalam kalimat diatas terdapat pengulangan kata “Ia ingin” yang dimaksudkan sebagai penekanan sebuah keinginan yang begitu besar. Selain itu terdapat pula pada kalimat berikutnya:
“Ia bisa merasakan gesekan yang sangat lembut pelan, ketika sebutir air bergulir di ujung hidungnya. Bahkan ia bisa merasakan dingin yang menggeletarkan bulu-bulu matanya” (h.1, p.1)
Dua kalimat dalam cerpen tersebut terdapat kesamaan konstruksi gramatikal yang sama. Adapun kesamaan struktur antar kalimat atau bagian kalimat terdapat dalam kalimat berikut:
“Ia memotong kuku, mencukur cambang, dan merapikan kumisnya yang tipis” (h.1, p.2)
“Ia menyisir rambutnya belah tengah, mengoleskan menyak rambut hingga tampak klimis, mengenakan pakaian terbaik mmiliknya, kemeja motif batik, dan tentu ia tak lupa menyemprotkan minyak wangi.” (h.2, p.2)
“Sedikit dibawah ketiak, di leher, di lengan, dan menggosoknya pelan” (h.2, p.2)
Adapun contoh lainnya yang lebih detail dalam sebuah penekanan sebuah kata yang merupakan gambaran sebuah keinginan yang kuat terdapat pada kalimat:
“Ia tak perlu susah-susah beli racun, lalu menenggaknya. Ia juga tak perlu repot-repot menyiapkan tali dan menggantungkan diri. Mati dengan cara seperti itu selalu menimbulkan kerumitan tersendiri. Ia pun tak perlu menabrakkan diri ke laju kereta api. Betapa tidak sedapnya mati dengan tubuh remuk terburai seperti itu: merepotkan dan menjijikkan.” (h.2, p.1)
Dari beberapa contoh kalimat diatas penggunaan gaya bahasa sintaksis bentuk pengulangan terlihat jelas. Hal ini dimaksudkan penulis untuk lebih menekankan dan memperjelas kejadian yang berupa keinginan yang kuat oleh tokoh utama yang digambarkan dalam cerita.
2. Gaya Semantis
Menurut Luxemburg (1991: 64) gaya semantis mengacu pada makna kata, bagian kalimat, dan kalimat dan secara umum disebut majas. Majas yang terdapat dalam gaya semantis adalah majas pertentangan, majas identitas dan majas kontiguitas.
a. Majas pertentangan
Dalam majas ini terdapat istilah antitese atau majas yang disertai dengan paralelisme sintaksis, contohnya “Ada waktu untuk datang, ada waktu untuk pergi” (Luxemburg, 1991: 64). Dalam cerpen ini tercermin pada kalimat berikut,
“Sungguh saya ingin mati, tetapi tak hendak bunuh diri” (h.5, p.1)
Dalam kalimat diatas sangat bertolak belakang dengan keadaan yang sering kita jumpai, ketika seseorang punya keinginan untuk mati pastinya akan melakukan hal yang dapat menyebabkan kematian itu, seperti bunuh diri. Namun dalam kalimat diatas begitu tercermin kalimat yang bertentangan. Adapun contoh yang lainya terdapat dalam kalimat berikut:
“Bila itu lelucon, pastilah itu lelucon yang tidak lucu” (h.5, p,2)
Dalam kalimat diatas sebuah lelucon pastinya akan menimbulkan hal yang lucu, namun dalam kalimat bertentangan dengan kalimat “lelucon yang paling tidak lucu”.
b. Majas identitas
Majas identitas mencakup perumpamaan dan metafora yang membandingkan objek atau pengertian dan menyamakannya secara semantis. Dalam proses metaforik terdapat beberapa bentuk seperti sinestesi dan personifikasi.
1. Metafora
a. Bentuk metafora yang akan dibahas terlebih dulu disini adalah penghilangan bagian yang harfiah sehingga makna yang tidak ditunjukkan dalam teks harus kita tentukan sendiri untuk memperoleh pemahaman yang baik (Luxemburg, 1991: 95) misalnya
“Lihatlah, cahaya matahari seperti susu segar yang ditumpahkan ke lantai, terasa kental.”(h. 2, p.3)
Disini cahaya matahari yang cerah dan hangat diumpamakan seperti susu segar yang kental.
b. Bentuk lain dalam bidang semantik adalah sinestesi yang menunjukkan aspek dari indera yang satu dihubungkan dengan indera lain, contohnya “suara yang hangat” (Luxemburg, 1989: 189). Dalam cerpen ini tercermin pada beberapa kalimat berikut,
“Betapa waktu yang berdenyut lembut membuat perasaan terhanyut” (h.1, p.1).
Disini indera penglihatan berupa kata “waktu” dihubungkan dengan indera perasaan berupa kata “berdenyut lembut “.
“... membuat setiap aroma jadi terasa begitu kental dalam penciumannya”(h. 3, p.1)
Pada kalimat ini indera penciuman berupa kata “aroma” dihubungkan dengan indera perasaan berupa kata “kental”.
c. Bentuk metafora yang banyak dijumpai adalah personifikasi dimana aspek arti dari sesuatu yang hidup dialihkan kepada sesuatu yang tidak bernyawa (Luxemburg, 1989: 189). Contoh dalam cerpen ini adalah
“Betapa waktu yang berdenyut lembut membuat perasaan terhanyut” (h.1, p.1).
“Detak jam yang begitu lembut” (h. 3)
Waktu dan detak jam adalah sesuatu yang tidak bernyawa, namun dinyatakan bisa berdenyut lembut.
Adapun kalimat lainnya yang merupakan personifikasi sebagai berikut:
“Aku bayangkan maut mengecup keningnya pelan, dan ia tersenyum.” (h. 6, p. 1)
Seperti halnya waktu dan detak jam, disini kata “maut” merupakan sesuatu yang tidak bernyawa, namun dinyatakan dapat mengecup keningnya pelan.
Dari beberapa contoh penggunaan gaya bahasa baik gaya bahasa sintaksis maupun gaya bahasa semantis
VI. Kesimpulan
Dari analisis yang dilakukan terhadap penggunaan bahasa menurut gaya dan majas yang ditemukan dalam cerpen ““Tentang Seorang yang Mati Tadi Pagi” karya Agus Noor diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa cerpen tersebut menggunakan bahasa yang khas sastra. Seperti yang telah diketahui bahwa makna dari bahasa yang khas sastra atau bahasa sastra antara lain adalah bahasa yang penuh dengan asosiasi, bersifat konotatif serta mempunyai fungsi ekspresif yang menunjukkan sikap penulisnya. Semakin kaya pengetahuan bahasa serta pengalaman sastra yang dimiliki seseorang, ia akan semakin mampu melakukan analisis maupun pengamatan yang baik terhadap pemakaian bahasa dalam sebuah karya sastra. Hal ini sangat disadari oleh penulis makalah yang merasa analisis yang disajikannya sangat sederhana dikarenakan lingkup pengetahuannya yang masih sempit. Maka penulis mengharapkan kritik, saran dan masukan yang dapat memperkaya pengetahuan dan pengalamannya sehingga dapat melakukan analisis yang lebih baik lagi di kemudian hari.
Pendidikan
Contoh Majas dan Gaya bahasa
Majas adalah gaya bahasa dalam bentuk tulisan maupun lisan yang dipakai dalam suatu karangan yang bertujuan untuk mewakili perasaan dan pikiran dari pengarang. Majas dibagi menjadi beberapa macam, yakni majas perulangan, pertentangan, perbandingan dan pertautan. Dalam artikel ini hanya dijelaskan perbandingan dan pertentangan.
1. Gaya bahasa perbandingan
A. Majas MetaforaMajas metafora adalah gabungan dua hal yang berbeda membentuk suatu pengertian yang baru. Contoh : raja siang, kambing hitam, dll.
B. Majas AlegoriMajas alegori adalah cerita yang digunakan sebagai lambang yang digunakan untuk pendidikan. Contoh : anjing dan kucing, kelinci dan kura-kura, dsb
C. Majas PersonifikasiMajas personifikasi adalah gaya bahasa yang membuat banda mati seolah-olah hidup memiliki sifat-sifat manusia. Contoh :- Kereta api tua itu meraung-raung di tengah kesunyian malam jumat pahing.- awan menari-nari di angkasa
D. Majas PerumpamaanMajas perumpamaan adalah suatu perbandingan dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama. Contoh :- Bagaikan harimau pulang kelaparan- Seperti manyulam di kain lapuk
E. Majas AntilesisMajas antilesis adalah gaya bahasa yang membandingkan dua hal yang berlawanan. Contoh :- Semua kebaikan ayahnya dibalas dengan keburukan yang menyakitkan.
2. Gaya Bahasa Pertentangan
A. Majas HiperbolaMajas hiperbola adalah suatu gaya bahasa yang bersifat melebih-lebihkan. Contoh :- Ibu itu terkejut setengah mati ketika mendengar anaknya tidak lulus ujian nasional.
B. Majas IroniMajas ironi adalah gaa bahasa yang bersifat menindir dengan halus. Contoh :- Pandai sekali kau baru datang ketika rapat mau selesai
C. Majas LitotesMajas litotes adalah gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu yang baik menjadi bersifat negatif. Contoh :- Mampirlah ke gubuk saya! (padahal rumahnya besar dan mewah)
MAJAS
Majas atau gaya bahasa adalah bahasa kias yang digunakan untuk mempertajam kamsud.A. Majas perbandingan
1. Personifikasi, yaitu majas yang membandingkan benda yang tidak bernyawa seolah-olah dapat bertindak seperti manusia.
Contoh :
a. Bulan menangis menyaksikan manusia saling bunuh.
b. Daun-daun memuji angin yang telah menyapanya.
2. Metafora, yaitu membandingkan dua hal/benda tanpa menggunakan kata penghubung.
Contoh :
a. Bumi itu perempuan jalang.
b. Tuhan adal;ah warga negara yang paling modern.
3. Simile/Perumpamaan, yaitu membandingkan dua hal/benda dengan menggunakan kata penghubung.
Contoh :
a. Wajahnya bagai bola api.
b. Tatapannya laksana matahari.
c. Seperti angin aku melayang kian kemari.
4. Alegori, membandingkan hal/benda secara berkelanjutan membentuk sebuah cerita.
Contoh :
Perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing, yang kadang-kadang sulit ditebak kedalamannya, yang rela menerima segala sampah, dan yang pada akhirnya berhenti ketika bertemu dengan laut.
B. Majas pertentangan
1. Hiperbola, mempertentangkan secara berlebih-lebihan.
Contoh :
a. Saya telah berusaha setengah mati menyelesaikan soal itu.
b. Kekayaannya selangit.
2. Litotes, mempertentangkaan dengan merendahkan diri.
Contoh :
a. Kalau sempat mampirlah ke gubukku.
b. Ah, saya ini khan cuma kacung.
3. Ironi, mempertentangkan yang bertujuan menyindir dengan menyampaikan sesuatu yang bertentangan dengan fakta yang sebenarnya.
Contoh :
a. Hebat betul, pertanyaan semudah itu tidak bisa kaujawab.
b. Rajin betul, jam sepuluh baru datang!
4. Oksimoron, mempertentangkan secara berlawanan bagian demi bagian.
Contoh :
a. Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda.
b. Kesedihan adalah awal kebahagiaan.
C. Majas pertautan
1. Metonimia, menghubungkan ciri benda satu dengan benda lain yang disebutkan.
Contoh :
a. Kakakku sedang membaca Pramudya Ananta Toer.
b. Belikan aku gudang garam filter.
2. Sinekdoke, mernyebut sebagian untuk keseluruhan (pars pro toto) atau keseluruhan untuk sebagian (totum pro part).
Contoh :
a. SMA Stella Duce 2 Yogyakarta berhasil masuk final pertandingan basket.
b. Roda duanya mogok.
3. Alusio, mempertautkan hal dengan peribahasa.
Contoh :
a. Kalau kita menggunakan sebaiknya hemat jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang.
b. Sebaiknya kita menggunakan ilmu padi dalam kehidupan kita, semakin berisi semakin tunduk.
4. Inversi, mengubah susunan kalimat.
Contoh :
a. Hancurlah hatinya menyaksikan kekasihnya berpaling ke lelaki lain.
b. Merahlah mukanya mendengar caci maki sahabat karibnya.D. Majas perulangan
1. Aliterasi, mengulang bunyi konsonan yang sama.
Contoh :
a. Malam kelam suram hatiku semakin muram.
b. Gadis manis menangis hatinya teriris iris.
2. Antanaklaris, memgulang kata yang sama dengan arti yang berbeda.
Contoh :
a. Buah hatinya menjadi buah bibir tetangganya.
b. Hatinya memintanya berhati-hati.
3. Repetisi, mengulang-ulang kata, frase, atau klausa yang dipentingkan.
Contoh :
a. Di Stella Duce 2 Yogyakarta ia mulai meraih prestasi, di Stella Duce 2 Yogyakarta ia menemukan tambatan hati, di Stella Duce 2 Yogyakarta pula ia menunggu hari tuanya.
b. Tidak ada kata lain selain berjuang, berjuang, dan terus berjuang.
4. Paralelisme, mengulang ungkapan yang sama dengan tujuan memperkuat nuansa makna.
Contoh :
a. Sunyi itu duka, sunyi itu kudus, sunyi itu lupa, sunyi itu mati.
b. Hidup adalah perjuangan, hidup adalah persaingan, hidup adalah kesia-siaan.
Senarai Peribahasa dalam Buku teks Tingkatan 4
1. Bulat air kerana pembetung, bulat manusia kerana muafakatMaksud : Kata sepakat yang dicapai dalam mesyuarat.
2. Darah dagingMaksud : Anak dan saudara-mara daripada keturunan sendiri.
3. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjingMaksud : mengalami susah senang bersama-sama.
4. meninggi diriMaksud : Sombong
5. bermuka duaMaksud : Tidak jujur.
6 baik hatiMaksud : Bersikap baik dan penyayang (suka menolong).
7. tulang belakangMaksud : Punca kekuatan/ orang harapan
8. bara yang digenggam biar sampai jadi arangMaksud : Mengerjakan sesuatu yang sukar hendaklah sabar, sehingga mencapai kejayaan.
9. bagai kaca terhempas ke batuMaksud : Sangat sedih atau kecewa.
10. melentur buluh biarlah dari rebungnyaMaksud : Mendidik anak biarlah sejak mereka kecil lagi.
11. duduk sama rendah, berdiri sama tinggiMaksud : dua orang atau pihak yang sama darjat dalam adat
12. seperti lembu dicucuk hidungMaksud : Orang yang selalu menurut kemahuan orang
13. yang berat sama dipikul, yang ringan sama dijinjingMaksud : Bersama-sama menghadapi atau mengerjakan sesuatu.
14. dayung sudah di tangan, perahu sudah di airMaksud : segala-gala yang dikehendaki sudah diperoleh.
15. terang hatiMaksud : Lekas pandai.
16. rendah hatiMaksud : Tidak sombong
17. murah hatiMaksud : Pemurah.
18. tak lapuk dek hujan, tak lekang dek panasMaksud : Adat yang tidak berubah; sesuatu yang tetap utuh.
19. Tangan kosongMaksud : Hampa.
Senarai Peribahasa dalam Buku teks Tingkatan 5
1. lintah daratMaksud : Peniaga yang mengambil keuntungan yang terlalu tinggi.
2. bagai aur dengan tebingMaksud : Hubungan yang rapat antara sama sama yang lain dan saling membantu.
3. anak dagangMaksud : Orang luar yang datang menetap di sesuatu tempat
4. Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, lebih baik di negeri sendiriMaksud : Walau bagaimanapun kelebihan di negara orang, tetap negeri sendiri lebih baik lagi.
5. kalau takut dilambung ombak, jangan berumah di tepi pantaiMaksud : Kalau takut berhadapan dengan penderitaan , lebih baik jangan melakukan sesuatu yang susah
6. indah khabar daripada rupaMaksud : Perkhabaran tentang sesuatu perkara yang dilebih-lebihkan.
7. hati gajah sama dilapah, hati kuman sama dicecahMaksud : Pengagihan yang sama banyak.
8. bukit sama didaki, lurah sama dituruniMaksud : Perhubungan yang sangat akrab, senang susah bersama.
9. kacang lupakan kulitMaksud : Orang yang melupakan asalnya atau orang yang pernah menolongnya setelah mendapat kesenangan.
10. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjungMaksud : Menurut adat atau peraturan di tempat yang kita diami atau tinggal.
11. masuk kandang kambing mengembek, masuk kandang kerbau menguakMaksud : Menyesuaikan diri dengan tempat dan keadaan
12. ibarat telur sesangkak, pecah sebiji, pecah semuaMaksud : kesilapan yang dilakukan oleh seseorang menyebabkan orang lain yang menerima akibatnya..
13. memerah otakMaksud : Berfikir dengan bersungguh-sungguh.
14. kalau tidak dipecahkan ruyung, manakan dapat sagunyaMaksud : Tak akan tercapai maksudnya kalau tak mahu berusaha dan bersusah payah
15. berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudianMaksud : Bersusah payah terlebih dahulu untuk mendapatkan kesenangan pada kemudian hari.
16. yang bulat tidak datang menggolek, yang pipih tidak datang melayangMaksud : Sesuatu benda tidak akan datang tanpa usaha
17. sedikit-sedikit, lama-lama jadi bukitMaksud : Sabar mengerjakan sesuatu lama-lama berhasil juga.
18. bak cendawan tumbuh selepas hujanMaksud : Terlalu banyak pada sesuatu masa.
19. bulat air kerana pembetung, bulat manusia kerana muafakat.Maksud : Kata sepakat yang dicapai dalam mesyuarat.
20. yang kita kejar tak dapat, yang kita kendong pula berciciranMaksud : Bernasib malang kerana setelah memperoleh sesuatu, tetapi yang sudah di tangan hilang pula.
21. mencari jalanMaksud : Berikhtiar menyelesaikan sesuatu perkara.
22. biar mati anak, jangan mati adatMaksud : orang yang kuat perpegang pada adat.
23.sediakan payung sebelum hujanMaksud : Berjaga-jaga dulu sebelum mendapat sesuatu bencana.
24. berbesar hatiMaksud : Gembira.
25. anak buahMaksud : a. Anak saudara. b. Pekerja di bawah jagaan kita.
26. tuan rumahMaksud : tempat berlangsungnya sesuatu acara
27. yang lama dikelek, yang baharu didukungMaksud : Adat yang lama tetap diamalkan di samping budaya hidup yang baharu.
28. batu penghalangMaksud : Halangan
29 untung anak lelaki cari-carikan, untung anak perempuan nanti-nantikanMaksud : orang lelaki yang merisik bakal isterinya.
30. bagai ikan pulang ke lubukMaksud : a. Orang yang pulang ke tempat asal. b. Kehidupan yang senang.
Sinonim, Antonim dan HomonimSat, 29/04/2006 - 4:04pm — godam64
A. SinonimSinonim adalah suatu kata yang memiliki bentuk yang berbeda namun memiliki arti atau pengertian yang sama atau mirip. Sinomin bisa disebut juga dengan persamaan kata atau padanan kata.
Contoh Sinonim :- binatang = fauna- bohong = dusta- haus = dahaga- pakaian = baju- bertemu = berjumpa
B. AntonimAntonim adalah suatu kata yang artinya berlawanan satu sama lain. Antonim disebut juga dengan lawan kata.
Contoh Antonim :- keras x lembek- naik x turun- kaya x miskin- surga x neraka- laki-laki x perempuan- atas x bawah
C. HomonimHomonim adalah suatu kata yang memiliki makna yang berbeda tetapi lafal atau ejaan sama. Jika lafalnya sama disebut homograf, namun jika yang sama adalah ejaannya maka disebut homofon.
Contoh Homograf :- Amplop+ Untuk mengirim surat untuk bapak presiden kita harus menggunakan amplop (amplop = amplop surat biasa)+ Agar bisa diterima menjadi pns ia memberi amplop kepada para pejabat (amplop = sogokan atau uang pelicin)- Bisa+ Bu kadir bisa memainkan gitar dengan kakinya (bisa = mampu)+ Bisa ular itu ditampung ke dalam bejana untuk diteliti (bisa = racun)
Contoh Homofon :- Masa dengan Massa+ Guci itu adalah peninggalan masa kerajaan kutai (masa = waktu)+ Kasus tabrakan yang menghebohkan itu dimuat di media massa (massa = masyarakat umum)
Tambahan :- Anonim adalah tidak memiliki nama atau tidak diberikan nama.
Gejala bahasa atau peristiwa bahasa itu di antaranya ialah:
(1) Adaptasi,penyesuaian bentuk berdasarkan kaidah fonologis, kaidah ortografis, atau kaidah morfologis
Contoh :
* vyaya menjadi biaya * pajeg menjadi pajak * voorloper menjadi pelopor * fardhu menjadi perlu * igreja menjadi gereja * voorschot menjadi persekot * coup d'etat menjadi kudeta * postcard menjadi kartu pos * certificate of deposit menjadi sertifikat deposito * mass producIion menjadi produkmassa
(2) Analogi,pembentukan kata berdasarkan contoh yang telah ada.
Contoh :
* Berdasarkan kata 'dewa-dewi' dibentuk kata : putra-putri, siswa-siswi, saudara-saudari, pramugara-pramugari
* Berdasarkan kata 'industrialisasi' dibentuk kata : hutanisasi, Indonesianisasi
* Berdasarkan kata 'pramugari' dibentuk kata : pramuniaga, pramuwisata, pramuria, pramusaji,pramusiwi
* Berdasarkan kata 'swadesi' dibentuk kata : swadaya, swasembada, swakarya, swasta, swalayan
* Berdasarkan kata 'tuna netra' dibentuk kata : tuna wicara, tuna rungu, tuna aksara, tuna wisma, tuna karya, tuna susila, tuna busana.
(3) Anaptiksis (Suara Bakti),penyisipan vokal e pepet untuk melancarkan ucapan Disebut juga suara bakti.
Contoh:
* sloka menjadi seloka * srigala menjadi serigala * negri menjadi negeri * ksatria menjadi kesatria
(4) Asimilasi,proses perubahan bentuk kata karena dua fonem berbeda disamakan atau dijadikan hampir sama.
Contoh:
* in-moral menjadi immoral * in-perfect menjadi imperfek * al-salam menjadi asalam * ad-similatio menjadi asimilasi * in-relevan menjadi irelevan * ad-similatio menjadi asimilasi
(5) Disimilasi,kebalikan dari asimilasi, yaitu perubahan bentuk katam yang terjadi karena dua fonem yang sama dijadikan berbeda.
Contoh :
saj jana menjadi sarjanasayur-sayur menjadi sayur-mayur
(6) Diftongisasi,perubahan bentuk kata yang terjadi karena monoftong diubah menjadi diftong.Jadi kebalikan monoftongisasi.
Contoh :
* sentosa menjadi sentausa * cuke menjadi cukai * pande menjadi pandai * gawe menjadi gawai
(7) Monoftongisasi,perubahan benluk kata yang terjadi karena perubahan diftong (vokal rangkap) menjadi monoftong (vokal tunggal)
Contoh :
* autonomi menjadi otonomi * autobtografi menjadi otobiografi * satai menjadi sate * gulai rnenjadi gule
(8) Sandi (Persandian),perubahan bentuk kata yang terjadi karena peleburan dua buah vokal yang berdampingan, dengan akibat jutmlah suku kata berkurang satu.
Contoh :
* keratuan menjadi keraton * kedatuan menjadi kedaton * sajian menjadi sajen * durian menjadi duren
Perhatikan jumlah suku kata!
ke - ra - tu - an ~> ke - ra - ton1 2 3 4 1 2 3
du - ri- an ~> du - ren 1 2 3 1 2
(9) Hiperkorek,pembetulan bentuk kata yang sebenarnya sudah betul, sehingga hasilnya justru salah.
Contoh :
* Sabtu menjadi Saptu * jadwal menjadi jadual * manajemen menjadi menejemen * asas menjadi azas * surga menjadi sorga * Teladan menjadi tauladan * izin menjadi ijin * Jumat menjadi Jum'at * kualifikasi menjadi kwalifikasi * frekuensi menjadi frekwensi * kuantitas menjadi kwantitas * November menjadi Nopember * kuitansi menjadi kwitansi * mengubah menjadi merubah * februari menjadi Pebruari * persen menjadi prosen * pelaris menjadi penglaris * system menjadi sistim * teknik menjadi tehnik * apotek menjadi apotik * telepon menjadi telfon * ijazah menjadi ijasah * atlet menjadi atlit * nasihat menjadi nasehat * biaya menjadi beaya * perusak menjadi pengrusak * zaman menjadi jaman * koordinasi menjadi kordinasi
(10) Kontaminasi,disebut juga kerancuan, yaitu kekacauan dimana dua pengertian yang berbeda, atau perpaduan dua buah struktur yang seharusnya tidak dipadukan.
Contoh :
* berulang-ulang dan berkali-kali menjadi berulang-kali * saudara-saudara dan saudara sekalian menjadi saudara-saudara sekalian * musnah dan punah menjadi musnah
(11) Metatesis,pergeseran kedudukan fonem, atau perubahan bentuk kata karena dua fonem alau lebih dalam suatu kata bergeser tempatnya.
Contoh :
* rontal menjadi lontar * anteng menjadi tenang * usap menjadi sapu * palsu menjadi sulap * keluk menjadi lekuk
(12) Protesis,perubahan fonem di depan bentuk kata asal.
Contoh :
* lang menjadi elang * mak menjadi emak * mas menjadi emas * undur menjadi mundur * stri menjadi istri * arta menjadi harta * alangan menjadi halangan * sa menjadi esa * atus menjadi ratus * eram menjadi peram
(13) Epentesis,perubahan bentuk kata yang terjadi karma penyisipan fonem ke dalam kata asal
Contoh :
* baya menjadi bahaya * bhayamkara menjadi bhayangkara * gopala menjadi gembala * jur menjadi jemur * bahasa menjadi bahasa.
(14) Paragog,perubahan bentuk kata karena penambahan fonem di bagian akhir kata asal.
Contoh :
* mama, bapa menjadi mamak dan bapak * pen menjadi pena * datu menjadi datuk * hulu bala menjadi hulubalang * boek menjadi buku * abad menjadi abadi * pati menjadi patih * bank menjadi bangku * gaja menjadi gajah * conto menjadi contoh.
(15) Aferesis,penghilangan fonem di awal bentuk asal.
Contoh :
* adhyaksa menjadi jaksa * empunya menjadi punya * sampuh menjadi ampuh * wujud menjadi ujud * bapak menjadi pak * ibu menjadi bu.
(16) Sinkop,penghilangan fonem di tengah atau di dalam kata asal.
Contoh :
* laghu menjadi lagu * vidyadhari menjadi bidadari * pelihara menjadi piara * mangkin menjadi makin * niyata menjadi nyata * utpatti menjadi upeti.
(17) Apokop,penghilangan fonem di akhir bentuk kata asal.
Contoh :
* sikut menjadi siku * riang menjadi ria * balik menjadi bali * anugraha menjadi anugerah * pelangit menjadi pelangi.
(18) Kontraksi,gejala pemendekan atau penyingkatan suatu frase menjadi kata baru.
Contoh :
* tidak ada menjadi tiada * kamu sekalian menjadi kalian * kelam harian menjadi kemarin * bagai itu menjadi begitu * bagai ini menjadi begini.
Akronim, seperti balita, siskamling, rudal, ampera, pada dasarnya termasuk gejala kontraksi.
(19) Nasalisasi,atau penyengauan, proses penambahan bunyi sengau atau fonem nasal, yaim /m/, /n/, /ng/, den /ny/.
Contoh :
* me baca menjadi membaca * pe duduk menjadi penduduk * pe garis menjadi penggaris.
(20) Palatalisasi,penambahan fonem palatal /y/ pada suatu kata ketika kata ini dilafalkan.
Contoh :
pada kata ia, dia. pria, panitia, ksatria, bersedia, yang masing-masing dilafalkan /iya/, /priya/, /diya/. /panitiya/, dan /bersediya/. jadi palatalisasi muncul di antara vokal /i/ dan /a/ yang digunakan berdampingan.
(21) Labialisasi,penambahan fonem labial /w/ di antara vokal /u/ dan /a/ yang berdampingan pads sebuah kata.
Contoh :
pada kata uang, buang, ruang, juang, kualitas, dan lain-lain. Selain itu, labialisasi juga muncul di antara vokal /u/ dan/e/. atau /u/ dan /i/ seperti pada kata frekuensi dan kuitansi. Pada waktu kita lafalkankata-kata itu, terasa sekali, bahwa di antara vokal-vokat tersebuttimbul fonem labial /w/, misalnya uang kita lafalkan /uwang/,
(22) Onomatope,proses pembentukan kata berdasarkan tiruan bunyi-bunyi.
Contoh :
* hura-hura dari hore-hore. * aum (suara harimau) * meong (suara kucing) * embik (suara kambing) * desis (suara ular) * desah (suara napas) * ketuk (bunyi pintu atau meja dipukul dengan jari atau palu)
(23) Haplologi,proses perubahan bentuk kata yang berupa penghilangan satu suku kata di tengah-tengah kata.
Contoh :
* samanantara menjadi sementara * mahardhika menjadi merdeka * budhidaya menjadi budaya
