ANALISIS PENGGUNAAN GAYA BAHASA DAN MAJAS CERPEN “TENTANG SEORANG YANG MATI TADI PAGI” KARYA AGUS NOOR
· View· clicks Posted January 24th, 2009 by poobe
· Artikel Lainnya
ANALISIS PENGGUNAAN GAYA BAHASA DAN MAJAS
DALAM 20 CERPEN TERBAIK 2008 KOMPAS
BERJUDUL “TENTANG SEORANG YANG MATI TADI PAGI” KARYA AGUS NOOR
Mata Kuliah : Ilmu Sastra Umum
Dosen : Prof. Dr. H. Budi Darma, M.A.
Drs. Santiko Budi, M.A
Disusun oleh:
Wardani Dwi W 08745070
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
PROGRAM PASCA SARJANA
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
JANUARI 2009
I. Pendahuluan
Memberikan definisi pada sastra merupakan hal yang sampai saat ini belum terjawab dengan tuntas. Menurut Welleck & Warren salah satu cara yang dianggap paling mudah untuk memberi definisi pada sastra adalah dengan merinci penggunaan bahasa yang khas sastra (1995:14). Sedangkan menurut Luxemburg (1991: 21) sastra memiliki bahasa yang khusus dengan cara penanganan yang berbeda-beda, yang tidak hanya berlaku untuk puisi, tapi juga untuk prosa sastra. Cara penggunaan bahasa seperti pemilihan kata, perangkaian kata menjadi kalimat, dan penggabungan kalimat menjadi teks, merupakan hal yang harus dihadapi oleh seseorang yang menggubah teks. Pokok dan tujuan pembuatan teks merupakan hal yang mendasari penggunaan bahasa dalam teks tersebut. Dalam hal ini pengarang menjadi faktor penentu penggunaan bahasa. Terbukti pada hasil tulisan seorang pengarang yang memuat penggunaan bahasa yang berbeda dengan hasil tulisan pengarang yang lainnya.
Makalah ini akan membahas beberapa gaya bahasa yang digunakan dalam cerpen “Tentang Seorang yang Mati Tadi Pagi” karya Agus Noor dalam 20 Kumpulan Cerpen Terbaik 2008 Kompas. Dalam makalah ini akan membahas mengenai gaya bahasa sintaksis dan gaya bahasa semantis. Gaya bahasa sintaksis terdiri dari bentuk pengulangan, bentuk pembalikan dan bentuk penghilangan (Luxemburg, 1991: 62), namun dalam cerpen “Tentang Seorang yang Mati Tadi Pagi” karya Agus Noor tiodak ditemukan bentuk pembalikan dan bentuk penghilangan, sehingga gaya bahasa sintaksis yang digunakan adalah bentuk pengulangan. Sedangkan untuk gaya bahasa semantis akan dibahas mengenai majas pertentangan, majas identitas dan majas kontiguitas (Luxemburg, 1991: 64).
II. Pembahasan
Pembahasan cerpen ““Tentang Seorang yang Mati Tadi Pagi” karya Agus Noor” dari sudut pandang penggunaan gaya bahasa sintaksis dan gaya bahasa semantis. Dalam gaya bahasa sintaksis yang digunakan adalah bentuk pengulangan dan bentuk penghilangan. Dalam gaya semantis akan dibagi ke dalam tiga majas, yaitu majas pertentangan, majas identitas dan majas kontiguitas. Ketiga majas tersebut nantinya masih dibagi lagi ke dalam beberapa kelompok.
1. Gaya Sintaktis
Bentuk sintaktis adalah konstruksi kalimat yang mencolok dari segi stilistika karena bangunnya yang menyimpang dari susunan yang “normal” (Luxemburg, 1991: 62). Bentuk sintaktis ini sesungguhnya dibagi ke dalam tiga jenis yang terdiri dari bentuk pengulangan, bentuk pembalikan dan bentuk penghilangan, namun karena bentuk pembalikan dan bentuk penghilangan tidak dijumpai dalam cerpen ini maka hanya bentuk pengulangan saja yang akan dibahas.
a. Bentuk pengulangan
Pada bentuk pengulangan atau paralelisme, terjadi perubahan terhadap urutan kata yang normal dalam kalimat. Paralisme sering juga disertai dengan pengulangan kata, frasa atau konstruksi gramtikal yang sama (Luxemburg, 1991: 62). Dalam sastra berfumgsi mempunyai dampak penekanan dan persuasif yang kuat. Dalam cerpen ini tampak pada kalimat berikut ini:
“Ia ingin segalanya berlangsung tenang dan nyaman. Ia ingin menikmati detik-detik kematiannya dengan karib.” (h.1, p.1)
Dalam kalimat diatas terdapat pengulangan kata “Ia ingin” yang dimaksudkan sebagai penekanan sebuah keinginan yang begitu besar. Selain itu terdapat pula pada kalimat berikutnya:
“Ia bisa merasakan gesekan yang sangat lembut pelan, ketika sebutir air bergulir di ujung hidungnya. Bahkan ia bisa merasakan dingin yang menggeletarkan bulu-bulu matanya” (h.1, p.1)
Dua kalimat dalam cerpen tersebut terdapat kesamaan konstruksi gramatikal yang sama. Adapun kesamaan struktur antar kalimat atau bagian kalimat terdapat dalam kalimat berikut:
“Ia memotong kuku, mencukur cambang, dan merapikan kumisnya yang tipis” (h.1, p.2)
“Ia menyisir rambutnya belah tengah, mengoleskan menyak rambut hingga tampak klimis, mengenakan pakaian terbaik mmiliknya, kemeja motif batik, dan tentu ia tak lupa menyemprotkan minyak wangi.” (h.2, p.2)
“Sedikit dibawah ketiak, di leher, di lengan, dan menggosoknya pelan” (h.2, p.2)
Adapun contoh lainnya yang lebih detail dalam sebuah penekanan sebuah kata yang merupakan gambaran sebuah keinginan yang kuat terdapat pada kalimat:
“Ia tak perlu susah-susah beli racun, lalu menenggaknya. Ia juga tak perlu repot-repot menyiapkan tali dan menggantungkan diri. Mati dengan cara seperti itu selalu menimbulkan kerumitan tersendiri. Ia pun tak perlu menabrakkan diri ke laju kereta api. Betapa tidak sedapnya mati dengan tubuh remuk terburai seperti itu: merepotkan dan menjijikkan.” (h.2, p.1)
Dari beberapa contoh kalimat diatas penggunaan gaya bahasa sintaksis bentuk pengulangan terlihat jelas. Hal ini dimaksudkan penulis untuk lebih menekankan dan memperjelas kejadian yang berupa keinginan yang kuat oleh tokoh utama yang digambarkan dalam cerita.
2. Gaya Semantis
Menurut Luxemburg (1991: 64) gaya semantis mengacu pada makna kata, bagian kalimat, dan kalimat dan secara umum disebut majas. Majas yang terdapat dalam gaya semantis adalah majas pertentangan, majas identitas dan majas kontiguitas.
a. Majas pertentangan
Dalam majas ini terdapat istilah antitese atau majas yang disertai dengan paralelisme sintaksis, contohnya “Ada waktu untuk datang, ada waktu untuk pergi” (Luxemburg, 1991: 64). Dalam cerpen ini tercermin pada kalimat berikut,
“Sungguh saya ingin mati, tetapi tak hendak bunuh diri” (h.5, p.1)
Dalam kalimat diatas sangat bertolak belakang dengan keadaan yang sering kita jumpai, ketika seseorang punya keinginan untuk mati pastinya akan melakukan hal yang dapat menyebabkan kematian itu, seperti bunuh diri. Namun dalam kalimat diatas begitu tercermin kalimat yang bertentangan. Adapun contoh yang lainya terdapat dalam kalimat berikut:
“Bila itu lelucon, pastilah itu lelucon yang tidak lucu” (h.5, p,2)
Dalam kalimat diatas sebuah lelucon pastinya akan menimbulkan hal yang lucu, namun dalam kalimat bertentangan dengan kalimat “lelucon yang paling tidak lucu”.
b. Majas identitas
Majas identitas mencakup perumpamaan dan metafora yang membandingkan objek atau pengertian dan menyamakannya secara semantis. Dalam proses metaforik terdapat beberapa bentuk seperti sinestesi dan personifikasi.
1. Metafora
a. Bentuk metafora yang akan dibahas terlebih dulu disini adalah penghilangan bagian yang harfiah sehingga makna yang tidak ditunjukkan dalam teks harus kita tentukan sendiri untuk memperoleh pemahaman yang baik (Luxemburg, 1991: 95) misalnya
“Lihatlah, cahaya matahari seperti susu segar yang ditumpahkan ke lantai, terasa kental.”(h. 2, p.3)
Disini cahaya matahari yang cerah dan hangat diumpamakan seperti susu segar yang kental.
b. Bentuk lain dalam bidang semantik adalah sinestesi yang menunjukkan aspek dari indera yang satu dihubungkan dengan indera lain, contohnya “suara yang hangat” (Luxemburg, 1989: 189). Dalam cerpen ini tercermin pada beberapa kalimat berikut,
“Betapa waktu yang berdenyut lembut membuat perasaan terhanyut” (h.1, p.1).
Disini indera penglihatan berupa kata “waktu” dihubungkan dengan indera perasaan berupa kata “berdenyut lembut “.
“... membuat setiap aroma jadi terasa begitu kental dalam penciumannya”(h. 3, p.1)
Pada kalimat ini indera penciuman berupa kata “aroma” dihubungkan dengan indera perasaan berupa kata “kental”.
c. Bentuk metafora yang banyak dijumpai adalah personifikasi dimana aspek arti dari sesuatu yang hidup dialihkan kepada sesuatu yang tidak bernyawa (Luxemburg, 1989: 189). Contoh dalam cerpen ini adalah
“Betapa waktu yang berdenyut lembut membuat perasaan terhanyut” (h.1, p.1).
“Detak jam yang begitu lembut” (h. 3)
Waktu dan detak jam adalah sesuatu yang tidak bernyawa, namun dinyatakan bisa berdenyut lembut.
Adapun kalimat lainnya yang merupakan personifikasi sebagai berikut:
“Aku bayangkan maut mengecup keningnya pelan, dan ia tersenyum.” (h. 6, p. 1)
Seperti halnya waktu dan detak jam, disini kata “maut” merupakan sesuatu yang tidak bernyawa, namun dinyatakan dapat mengecup keningnya pelan.
Dari beberapa contoh penggunaan gaya bahasa baik gaya bahasa sintaksis maupun gaya bahasa semantis
VI. Kesimpulan
Dari analisis yang dilakukan terhadap penggunaan bahasa menurut gaya dan majas yang ditemukan dalam cerpen ““Tentang Seorang yang Mati Tadi Pagi” karya Agus Noor diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa cerpen tersebut menggunakan bahasa yang khas sastra. Seperti yang telah diketahui bahwa makna dari bahasa yang khas sastra atau bahasa sastra antara lain adalah bahasa yang penuh dengan asosiasi, bersifat konotatif serta mempunyai fungsi ekspresif yang menunjukkan sikap penulisnya. Semakin kaya pengetahuan bahasa serta pengalaman sastra yang dimiliki seseorang, ia akan semakin mampu melakukan analisis maupun pengamatan yang baik terhadap pemakaian bahasa dalam sebuah karya sastra. Hal ini sangat disadari oleh penulis makalah yang merasa analisis yang disajikannya sangat sederhana dikarenakan lingkup pengetahuannya yang masih sempit. Maka penulis mengharapkan kritik, saran dan masukan yang dapat memperkaya pengetahuan dan pengalamannya sehingga dapat melakukan analisis yang lebih baik lagi di kemudian hari.

0 komentar:
Posting Komentar